IPPI Siap Bangkitkan Ekonomi Pensiunan, Rakernas Tegaskan Aksi Nyata Bukan Sekadar Wacana

Jakarta (13/2/2026), saatkita.com - Semangat perubahan dan kemandirian ekonomi menggema dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Profesional dan Pensiunan Indonesia (IPPI) yang digelar pada 11 Februari 2026. Mengusung tema “Meningkatkan Kualitas Hidup Pensiunan Melalui Ekonomi Kreatif”, Rakernas ini menjadi momentum konsolidasi dan arah baru perjuangan kesejahteraan pensiunan.

Ketua Umum IPPI, Tjasmita, S.H., menegaskan bahwa IPPI bukanlah pesaing organisasi mana pun, termasuk P2POS. IPPI hadir sebagai wadah perjuangan yang berorientasi pada kerja nyata demi kesejahteraan pensiunan.

“IPPI bukan sekadar organisasi yang banyak bicara. Kita bekerja, menggalang persatuan dan kesatuan, serta memperjuangkan hak-hak pensiunan,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, IPPI juga menyampaikan permohonan kepada PLT Dirut agar kebijakan uang ketupat/THR dapat kembali diberikan kepada para pensiunan. Selain itu, IPPI merekomendasikan Prof. Dr. Sugiyanto, S.H , M.H, untuk maju sebagai Ketua P2POS periode 2026–2031 pada Munas November mendatang.

Fokus Kemandirian: Bentuk Koperasi Pensiunan

Salah satu keputusan penting Rakernas adalah komitmen membentuk koperasi sebagai langkah konkret menuju kemandirian ekonomi.

Ketua Dewan Pembina IPPI, Dr. Sugiyanto, S.H., M.H, menegaskan bahwa tema Rakernas harus dilaksanakan, bukan hanya dibahas.

“Kalau ingin sejahtera, kita harus bergerak. Koperasi menjadi pintu masuk agar pensiunan bisa mandiri dan tidak terus bergantung,” ujarnya.

Koperasi ini dirancang untuk:
- Menjalankan kredit pensiun
- Memberikan permodalan usaha bagi anggota
- Dikelola secara profesional dan diaudit setiap tiga bulan
- Mengembangkan usaha produktif berbasis anggota.

IPPI juga membuka peluang pemanfaatan lahan dan aset terbengkalai untuk kegiatan ekonomi yang bermanfaat bagi pensiunan.

IPPI: Gerakan Moral dan Ekonomi Aktif

Prof. Dr. Eddy Sudarmadji dalam pemaparannya menegaskan bahwa IPPI bukan lagi gerakan jalanan, melainkan gerakan moral dan ekonomi aktif.

“Perjuangan tidak selalu di jalan. 50 persen sosial, 50 persen ekonomi produktif. Profesionalisme akan melahirkan ide-ide bisnis,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh anggota untuk membangun energi positif, membuka pikiran (unlock your self), dan berani menjadi leader yang cerdas serta suportif.

Tantangan Organisasi: Legalitas dan Pendanaan

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyoroti pentingnya legalitas organisasi, pembentukan sekretariat tetap, serta sumber pendanaan yang jelas agar IPPI dapat berkembang secara berkelanjutan.

Usulan Musyawarah Kerja (Muker)

Pasca-Lebaran juga disepakati untuk membahas strategi pendanaan dan struktur organisasi secara lebih detail.

Donasi disebut sebagai langkah awal, namun tidak boleh berlangsung terlalu lama tanpa perencanaan usaha yang jelas. (Red)

Penulis: Drs. Ahmad Fathul Ghoni

Baca Juga

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama