Meulaboh (24/1/2026), saatkita.com -
Di balik hiruk-pikuk kehidupan perkotaan Meulaboh, tersimpan potret pilu sebuah keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Di pinggiran Gampong Suak Sigadeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, sebuah keluarga kecil bertahan hidup di tengah kondisi serba kekurangan.
Keluarga ini menjadi gambaran nyata keteguhan masyarakat kecil yang terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang disertai kesulitan ekonomi.
Di sebuah rumah sempit berdinding papan dan beratapkan seng bekas, berukuran 2,5 x 5 meter ini, Jasman (52), bersama istrinya Hetri Sariyani (37) menjalani hari-hari penuh perjuangan.
Pasangan ini membesarkan anak semata wayang mereka dengan kesabaran dan harapan, meski hidup jauh dari kata layak.
Jasman diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-hari, ia hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh harian lepas, membantu warga sekitar jika ada pekerjaan, dengan penghasilan yang tidak menentu.
Sepintas, Jasman yang merupakan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tampak sehat dan bugar. Namun siapa sangka, selama lima tahun terakhir, ia menderita penyakit batu ginjal dan lambung akut yang kerap kambuh.
Kondisi kesehatan tersebut membuat Jasman tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat untuk menafkahi keluarganya secara maksimal.
Penyakitnya sering kambuh, terutama saat tubuh kelelahan atau ketika himpitan ekonomi memaksanya tetap bekerja demi sesuap nasi.
Di tengah kondisi itu, sang istri Hetri Sariyani turut mengambil peran penting dalam menopang ekonomi keluarga. Mulai dari pekerjaan ringan hingga pekerjaan berat, ia lakukan demi menutupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini terjadi di tengah upaya pemerintah daerah yang tengah mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan sosial masyarakat.
Namun hingga kini, keluarga Jasman mengaku belum sepenuhnya merasakan dampak nyata dari program-program tersebut.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat keluarga ini tak pernah padam. Mereka masih menyimpan harapan besarharapan akan kehidupan yang lebih layak, masa depan anak yang lebih cerah, serta perhatian nyata dari pemerintah dan para dermawan.
Jasman dan Hetri berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, baik berupa jaminan kesehatan, bantuan sosial, rumah layak huni, maupun program pemberdayaan ekonomi, agar mereka mampu bertahan dan menjalani kehidupan dengan lebih manusiawi.
Kisah keluarga Jasman ini diharapkan dapat membuka mata publik dan mengetuk nurani para pemangku kebijakan, bahwa di sudut-sudut perkotaan Aceh Barat, masih ada warga yang sangat membutuhkan kehadiran negara.
Dari Meulaboh, Aceh Barat, inilah potret nyata perjuangan hidup warga kecil, sebuah kisah yang menunggu kepedulian nyata. (Red)
Tim
Di balik hiruk-pikuk kehidupan perkotaan Meulaboh, tersimpan potret pilu sebuah keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Di pinggiran Gampong Suak Sigadeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, sebuah keluarga kecil bertahan hidup di tengah kondisi serba kekurangan.
Keluarga ini menjadi gambaran nyata keteguhan masyarakat kecil yang terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup yang disertai kesulitan ekonomi.
Di sebuah rumah sempit berdinding papan dan beratapkan seng bekas, berukuran 2,5 x 5 meter ini, Jasman (52), bersama istrinya Hetri Sariyani (37) menjalani hari-hari penuh perjuangan.
Pasangan ini membesarkan anak semata wayang mereka dengan kesabaran dan harapan, meski hidup jauh dari kata layak.
Jasman diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehari-hari, ia hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh harian lepas, membantu warga sekitar jika ada pekerjaan, dengan penghasilan yang tidak menentu.
Sepintas, Jasman yang merupakan mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tampak sehat dan bugar. Namun siapa sangka, selama lima tahun terakhir, ia menderita penyakit batu ginjal dan lambung akut yang kerap kambuh.
Kondisi kesehatan tersebut membuat Jasman tak lagi mampu melakukan pekerjaan berat untuk menafkahi keluarganya secara maksimal.
Penyakitnya sering kambuh, terutama saat tubuh kelelahan atau ketika himpitan ekonomi memaksanya tetap bekerja demi sesuap nasi.
Di tengah kondisi itu, sang istri Hetri Sariyani turut mengambil peran penting dalam menopang ekonomi keluarga. Mulai dari pekerjaan ringan hingga pekerjaan berat, ia lakukan demi menutupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini terjadi di tengah upaya pemerintah daerah yang tengah mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan sosial masyarakat.
Namun hingga kini, keluarga Jasman mengaku belum sepenuhnya merasakan dampak nyata dari program-program tersebut.
Meski hidup dalam keterbatasan, semangat keluarga ini tak pernah padam. Mereka masih menyimpan harapan besarharapan akan kehidupan yang lebih layak, masa depan anak yang lebih cerah, serta perhatian nyata dari pemerintah dan para dermawan.
Jasman dan Hetri berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, baik berupa jaminan kesehatan, bantuan sosial, rumah layak huni, maupun program pemberdayaan ekonomi, agar mereka mampu bertahan dan menjalani kehidupan dengan lebih manusiawi.
Kisah keluarga Jasman ini diharapkan dapat membuka mata publik dan mengetuk nurani para pemangku kebijakan, bahwa di sudut-sudut perkotaan Aceh Barat, masih ada warga yang sangat membutuhkan kehadiran negara.
Dari Meulaboh, Aceh Barat, inilah potret nyata perjuangan hidup warga kecil, sebuah kisah yang menunggu kepedulian nyata. (Red)
Tim

Posting Komentar