Saatkita

Lama Menjabat Tetapi Gagal Selesaikan Persoalan Mitan, Tokoh Masyarakat Minta Bupati SBB Copot Papalia

Piru (11/8/2026), saatkita.com - Kritikan terhadap kinerja Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja( Deperindagnaker) SBB, Abidin Papalia, dalam mengatasi kelangkaan BBM jenis Minyak Tanah ( Mitan) di Kota Piru terus digaungkan.

Kali ini kritikan datang dari Tokoh Masyarakat  SBB, Melkisedek Tuhehay, M.H., dalam komunikasinya dengan media ini lewat saluran Komunikasi Whats App  pada Selasa, (11/8/2026).

Tuhehay  dalam pernyataannya meragukan pernyataan Papalia, yang diungkapkan salah satu media onlain  yang ingin mencabut ijin dari pangkalan minyak nakal dan menindak para pengecer yang menjual Mitan dengan harga diatas Harga Eceran Tertinggi ( HET).

Karena menurut Tuhehay, pernyataan Kadis Perindagnaker SBB sudah sering dilontarkan tetapi kenyataan dilapangan masih tetap tidak berubah,  bahkan tidak ada perkembangan yang signifikan.
Karena pada kenyataannya,  minyak tanah sering hilang dari peredaran di masyarakat atau dijual dengan harga tinggi yakni Rp 40.000 per satu jerigen 5 liter, yang berarti  harga perliter menjadi Rp. 8000, harga ini jauh dari HET 4500, tetapi sering dijual Rp 5000 di pangkalan minyak.

"Papalia jangan bicara saja harus bertindak" bentak Tuhehay dalam percakapan di Grup WA.

Oleh sebab itu, tokoh masyarakat SBB ini meminta Bupati SBB segera mencopot Kadis Perindagnaker SBB, Abidin Papalia dari jabatannya karena selama menjabat banyak persoalan mendasar dari masyarakat yang tidak dapat dituntaskan.

Persoalan-persoalan itu diantaranya: tidak dapat menyelesaikan kelangkaan Minyak Tanah, tidak dapat memperjuangkan penambahan kouta BBM bersibsudi  di SBB  terutama Minyak Tanah dan Pertalite.

Bahkan, Papalia juga tidak bisa menunjukkan ketegasannya terhadap SPBU di Waipirit yang sudah tutup dalam jangka waktu yang lama sehingga tidak dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Kalau tutup lama begitu, cabut ijinnya dan ganti dengan pengusaha lain toh," cetusnya.

Tuhehay menandaskan,  dengan segunung masalah di bidang perminyakan saja Papalia tidak sanggup menuntaskannya, belum masalah-masalah perdagangan lainnya, maka sudah seharusnya Kadis Perindagnaker itu dicopot dan diganti dengan SDM yang lebih baik.

Pria asal kamariang ini mengakui bahwa,  Papalia memang sudah melewati jenjang  Seleksi Terbuka Jabatan Pemimpin Pratama  sehingga secara golongan dianggap mampu, tetapi ketika tidak bisa mengeksekusi dan menyelesaikan persoalan masyarakat maka mubasir bahkan berpotensi merugikan daerah.

"Kalau Bupati SBB masih mempertahankan figur-figur seperti  ini di SBB, maka kapan daerah ini bisa maju," ungkap Tuhehay dengan kesal. (Nicko Kastanja)
Lebih baru Lebih lama

ads

Magspot Blogger Template

ads

Magspot Blogger Template
Saatkita

نموذج الاتصال