Pemuda dan Kecab Dikmenjur Apresiasi Terobosan Gubernur Maluku Membuka Sekolah Kejuruan di Wilayah 3T

Piru (29/3/2026), saatkita.com - Salah satu Pemuda Maluku, Lodewijk Aristivane Matitaputty menyatakan bahwa, pembangunan seringkali kita terjebak pada euforia proyek fisik yang megah, namun yang paling luput dari sorotan dan fundamental adalah sektor pendidikan, pada daerah kepulauan yang sarat dengan tantangan geografis ini, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, S.H., LL.M, menunjukkan kepada masyarakat Maluku bahwa substansi dari kepemimpinan adalah bukan hanya soal membangun tembok, tapi membangun harapan.

Dalam rentang waktu satu tahun, yakni Tahun 2025 hingga 2026 terjadi lompatan besar yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), di mana berdasarkan data terbaru dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah dan Kejuruan , Nofi Marcus Lessil, S.Pi., M.Pd, ada satu hal yang menjadi prioritas dan keberpihakan yang nyata.

Menurut Lesil, pada wilayah yang selama ini berstatus 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) seperti Nuruwe, Taniwel Pegunungan, hingga Saluku di Huamual, kini berdiri tiga sekolah baru, yakni SMAN 31 Nuruwe, SMAN 32 Taniwel Pegunungan, dan SMAN 33 Saluku.

Selain itu, di era digital yang menuntut keterampilan presisi, Gubernur juga mengakselerasi pendidikan vokasi dengan melahirkan SMK Informatika Alhilal Kamal, sebagai langkah cerdas yang mengatasi keterbelakangan dengan kemampuan skill.

Langkah Gubernur Maluku ini adalah keberanian untuk memastikan anak-anak di pedalaman Seram tidak perlu menempuh perjalanan laut berhari-hari hanya untuk mengenyam pendidikan menengah, tetapi Ini adalah strategi cerdas dalam memerangi kemiskinan dan minimnya kecakapan dengan cara mendekatkan sekolah pada mereka yang paling membutuhkan.

Lesil mengungkapkan, kepedulian yang ditunjukkan oleh Gubernur Maluku ini bukanlah sebuah pencitraan, karena jika disimak datanya secara akurat, ini adalah grand strategy pendidikan berbasis keadilan, ditengah sempitnya anggaran dan kompleksnya birokrasi, Lewerissa memilih untuk memecah kebuntuan dengan memberikan payung hukum (izin operasional) yang selama ini sering menjadi kendala klasik di daerah.

Kepala Cabang Pendidikan menengah SBB ini menyebutkan, perhatian khusus ini harus disebut revolusi akses.

" Dalam setahun ini bukan hanya gedung yang lahir, tapi harapan yang dibangun. Gubernur Maluku seakan berkata, 'jangan tunggu daerahnya maju baru kita bangun sekolah'. Bangun sekolahnya, maka daerah itu akan maju dengan sendirinya''," urai Lessil.

Ia menambahkan, jika pembangunan fisik adalah denyut nadi ekonomi, maka pembangunan pendidikan di SBB ini adalah detak jantung peradaban Maluku yang baru, optimisme ini harus dimulai dari keberanian membuka pintu bukan hanya gerbang sekolah, tapi pintu kesempatan yang selama ini tertutup. (Nicko Kastanja)

Baca Juga

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama