Buano, SBB (27/1/2026), saatkita.com - Penetapan burung Kehicap Buano, sebagai spesies endemik yang diseluruh dunia hanya terdapat hanya berada di Desa Buano, sebagai salah satu ikon dari motif batik SBB mendapat apresiasi dari Pemuda Buano, Steven Rimbael
Dalam perbincangannya dengan media ini, di sela- sela Konferda AM-GPM Daerah Seram Barat, yang berlangsung pada Minggu, (25/1/2026).
Rimbael mengungkapkan bahwa, burung ini ditemukan oleh François Valentijn seorang peneliti dan pendeta asal Belanda.
Pemuda Buano ini menyatakan, keberadaan burung langka ini kembali digali oleh LSM Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) pimpinan , Piet Wairisal yang melakukan penelitian dan pemberdayaan masyarakat di Pulau Buano pada Tahun 2016.
Kemudian LPPM bersama Peneliti dari Australian University, melakukan penelitian ke hutan-hutan Pulau Buano yaitu ke wilayah-wilayah Soa yang ada di Buano Selatan dan Buano Utara dimana wilayah burung Kehicap ini berekosistem dan berkembang biak, hidup dan mencari makan.
Menurut Rimbael, karena langkanya burung ini maka Kehicap Buano sudah sangat jarang ditemui di sekitar pemukiman di Pulau Buano, itupun satu ekor saja.
Burung ini hanya bisa ditemui di hutan-hutan Pulau Buano yang berjarak 5-7 ratus kilometer dari pemukiman penduduk, burung Kehicap Buano pernah dibawa ke Australian University untuk diteliti.
Rimbael mengungkapkan, Kehicap Buano bernama latin Symposiachrus boanensis, kalau di Buano di sebut Burung Manjoli, dan bertelur tidak dipohon yang tinggi, tetapi pohon sedang saja, burung ini mirip dengan sebutan orang Maluku burung Baikole (burung kipasan kebun) tetapi ini spesies tersendiri, dengan warna dominan hitam dan dada putih, terkadang ada warna kuning di leher.
Menurut Rimbael, karena paruh burung ini kecil yakni sekitar 2-3 centimeter maka makanannya adalah biji-bijian seperti biji buah beringin dan lainnya.
Di akhir wawancara Rimbael mengharapkan, supaya kedepan burung endemik ini lebih dikenal luas oleh publik lewat batik khas SBB.
"Ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Seram Bagian Barat secara umum dan lebih khusus Pulau Buano, mari basudara di Nusa Puan Hual katong jaga dan lestarikan ekosistem burung endemik ini," himbaunya.(Nicko Kastanja)
Dalam perbincangannya dengan media ini, di sela- sela Konferda AM-GPM Daerah Seram Barat, yang berlangsung pada Minggu, (25/1/2026).
Rimbael mengungkapkan bahwa, burung ini ditemukan oleh François Valentijn seorang peneliti dan pendeta asal Belanda.
Pemuda Buano ini menyatakan, keberadaan burung langka ini kembali digali oleh LSM Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) pimpinan , Piet Wairisal yang melakukan penelitian dan pemberdayaan masyarakat di Pulau Buano pada Tahun 2016.
Kemudian LPPM bersama Peneliti dari Australian University, melakukan penelitian ke hutan-hutan Pulau Buano yaitu ke wilayah-wilayah Soa yang ada di Buano Selatan dan Buano Utara dimana wilayah burung Kehicap ini berekosistem dan berkembang biak, hidup dan mencari makan.
Menurut Rimbael, karena langkanya burung ini maka Kehicap Buano sudah sangat jarang ditemui di sekitar pemukiman di Pulau Buano, itupun satu ekor saja.
Burung ini hanya bisa ditemui di hutan-hutan Pulau Buano yang berjarak 5-7 ratus kilometer dari pemukiman penduduk, burung Kehicap Buano pernah dibawa ke Australian University untuk diteliti.
Rimbael mengungkapkan, Kehicap Buano bernama latin Symposiachrus boanensis, kalau di Buano di sebut Burung Manjoli, dan bertelur tidak dipohon yang tinggi, tetapi pohon sedang saja, burung ini mirip dengan sebutan orang Maluku burung Baikole (burung kipasan kebun) tetapi ini spesies tersendiri, dengan warna dominan hitam dan dada putih, terkadang ada warna kuning di leher.
Menurut Rimbael, karena paruh burung ini kecil yakni sekitar 2-3 centimeter maka makanannya adalah biji-bijian seperti biji buah beringin dan lainnya.
Di akhir wawancara Rimbael mengharapkan, supaya kedepan burung endemik ini lebih dikenal luas oleh publik lewat batik khas SBB.
"Ini menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Seram Bagian Barat secara umum dan lebih khusus Pulau Buano, mari basudara di Nusa Puan Hual katong jaga dan lestarikan ekosistem burung endemik ini," himbaunya.(Nicko Kastanja)

Posting Komentar