Ambon (4/11/2026)), saatkita.com - Pemuda Maluku Gerald Wakanno menyatakan, ada dua cara mempromosikan daerah, pertama, dengan anggaran besar dan gegap gempita yang cepat dilupakan, kedua, dengan kecerdasan strategis yang menempatkan daerah pada pusat lalu lintas dunia, tanpa harus membakar uang rakyat, dan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa tampaknya memilih jalan kedua.
Dan di situlah letak daya tarik sekaligus ketajaman manuver “Maluku di Bali” yang disimak oleh Wakanno dari cuplikan video promosi tersebut.
Menurut Wakanno dalam rilisnya kepada media ini, Rabu, (4/11/2026) di video itu, pesannya sederhana tetapi menusuk. Maluku adalah Negeri Rempah, kaya alam, budaya, dan sejarah dan dari Bali, Maluku hendak diperkenalkan sebagai potensi serta kebanggaan Indonesia, kalimat penutupnya.
“Dari Bali, mari bersama memperkenalkan Maluku sebagai Negeri Rempah yang kaya akan potensi dan kebanggaan Indonesia, bukan sekadar slogan. Itu adalah deklarasi diplomasi pariwisata yang cerdas," kutipnya.
Wakano menambahkan, Bali bukan sekadar Pulau Dewata. Ia adalah pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Indonesia, simpul penerbangan internasional, dan pusat perhatian dunia wisata, menempatkan promosi Maluku di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai adalah langkah piggybacking yang cerdas.
Maluku tidak membangun arus baru dari nol, tetapi menumpang pada arus global yang mapan. Ini bukan promosi biasa, ini adalah penyusupan narasi yang halus ke dalam rute perjalanan.
Promosi ini disebut dilakukan melalui kolaborasi dengan mitra strategis seperti Bank Mandiri dan Bea Cukai, tanpa membebani APBD, karena itu Wakanno mengatakan langkah ini sangat layak diapresiasi, dimana gubernur tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk diam, tetapi mengubah ruang komersial bandara menjadi etalase budaya, karena itu, ini adalah low-cost, high-impact diplomacy sebuah seni mengelola keterbatasan menjadi daya ungkit.
"Maluku tidak dijual sebagai “Bali kedua” atau destinasi pantai biasa, karena Maluku dijual sebagai Negeri Rempah, titik nol sejarah globalisasi, pusat peradaban maritim yang menghubungkan Timur dan Barat yang adalah storynomics tourism tingkat tinggi, dimana ketika dunia mendengar “Maluku”, yang muncul bukan hanya keindahan alam, tetapi juga sejarah Banda, rempah, pelayaran, dan peradaban. Di tengah pasar wisata yang jenuh dengan pantai dan sunset, Maluku menawarkan kedalaman," urainya.
Pria asal Desa Rambatu ini mengatakan, manuver di Bali bukan gerakan tunggal, karena terhubung dengan Calendar of Event 2026 yang memuat puluhan agenda wisata dari bahari, seni, hingga budaya, artinya, promosi di Bali adalah pintu masuk menuju pengalaman nyata di Maluku, sehinga menjadi strategi funnel, kesadaran di bandara internasional, ketertarikan pada destinasi, lalu konversi berupa kunjungan yang menggerakkan UMKM, komunitas seni, dan ekonomi kreatif.
Menurut Wakanno, Gubernur Maluku tidak sekadar menjual destinasi, ia menempatkan Maluku dalam peta narasi dunia. Dari Bali, Maluku tidak menumpang popularitas, Maluku sedang menenun takdirnya sendiri. (Nicko Kastanja)
Tags
news

