Ambon (4/11/2026), saatkita.com - Salah satu Putra Maluku, Gerald Wakanno menyatakan, jantung pelayanan kesehatan Maluku. RSUD dr. M. Haulussy, rumah sakit yang telah berdiri sejak 1940 dan selama puluhan tahun menjadi rujukan utama masyarakat Maluku, kini berada di jalur menuju perubahan besar.
"Renovasi total dan modernisasi menyeluruh. Bagi banyak orang Maluku, ini bukan sekadar proyek fisik. Ini adalah momentum bersejarah, sebuah pencapaian fenomenal setelah bertahun-tahun bangunan tua itu menanggung beban layanan dengan kondisi yang jauh dari layak, banyak bagian rusak, dan sebagian kian terbengkalai" urainya.
Menurut Wakanno dalam rilisnya yang dikirim ke media ini pada, Rabu, (4/11/2026), selama ini, RSUD Haulussy adalah cermin ironi Maluku, dimana di satu sisi, RSUD dr. Haulussy adalah rumah sakit kebanggaan, tempat ribuan pasien dari pulau-pulau mencari kesembuhan, tetapi disisi lain, bangunannya yang renta dan fasilitas yang menua menjadi pengingat bahwa daerah kepulauan sering kali harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan layanan dasar yang layak.
Pria asal Desa Rambatu, Kecamatan Inamosol itu, mengungkapkan, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, membawa persoalan ini langsung ke meja Kementerian Kesehatan RI. Dalam audiensi dengan Wakil Menteri Kesehatan II, dr. Benjamin Paulus Octavianus, pada Senin (2/11/2026).
Gubernur tidak datang dengan keluhan kosong, tetapi dengan data, prioritas, dan desain system, renovasi total RSUD Haulussy, perbaikan 141 Puskesmas terintegrasi di 11 kabupaten/kota, serta penguatan rujukan kepulauan melalui Integrated Island Health System.
Langkah Gubernur Maluku ini layak mendapat apresiasi setinggi-tingginya, karena tidak membiarkan Haulussy terus menjadi rumah sakit tua yang hanya dikenang dari cerita masa lalu tetapi memilih memperjuangkannya di arena yang tepat, anggaran pusat dengan argumen yang tajam.
Menurut Wakanno, Maluku adalah provinsi kepulauan, sistem kesehatannya tidak boleh dirancang dengan logika daratan. Renovasi Haulussy diproyeksikan menjadikannya rumah sakit rujukan utama berstandar unggul pada 2027, bukan sekadar gedung yang dipercantik, tetapi rumah sakit yang modern, tertata, dan membanggakan. Efisiensi juga dihitung, Haulussy dan RSUD dr. Ishak Umarella hanya berjarak sekitar 20 menit, sehingga peran keduanya dibagi Haulussy sebagai kekuatan rujukan utama, sementara RSKD tetap fokus pada layanan kesehatan jiwa.
"Ini adalah keputusan visioner yang mendahulukan mutu sistem di atas simbolisme proyek" cetusnya.
Pemuda Maluku itu juga memberikan apresiasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Maluku, dr. Elna Sitourisme Anakotta, Sp.M, beserta jajarannya, pasalnya mereka adalah garda terdepan yang menerjemahkan visi gubernur menjadi data teknis, prioritas wilayah, dan rencana integrasi layanan.
Menurutnya, tanpa kerja keras dan ketelitian dinas kesehatan, perjuangan ke Kemenkes tidak akan memiliki pijakan yang kuat. Begitu pula kepada Direktur RSUD dr. M. Haulussy dan seluruh manajemen rumah sakit, yang selama ini bertahan mengelola layanan di tengah keterbatasan. Ketahanan mereka adalah bukti bahwa Haulussy bukan hanya bangunan, ia adalah pengabdian.
Kini, pengabdian itu mendapat jalan menuju standar baru, rumah sakit modern, bersih, aman, dan layak menjadi kebanggaan orang Maluku.
Wakanno menambahkan, yang membuat pencapaian ini semakin bermakna adalah adanya pendampingan RS Fatmawati Jakarta sejak Juli 2026 untuk memperkuat tata kelola, SDM, operasional, dan keuangan RSUD Haulussy sehingga, renovasi total tidak berjalan sendiri, dimana gubernur memastikan bahwa setelah gedung diperbaiki, cara rumah sakit itu dikelola juga ikut bertransformasi. Ini adalah upaya memutus siklus “bangun–rusak–bangun” yang sering menjebak daerah.
"Renovasi Haulussy dan 141 Puskesmas 62 rusak ringan, 38 rusak sedang, dan 41 rusak berat adalah fondasi fisik dari sistem kesehatan kepulauan yang lebih adil. Rumah sakit rujukan yang hebat tanpa puskesmas yang kuat hanyalah menara di atas rawa. Gubernur, Dinas Kesehatan, dan Direktur RSUD Haulussy tampaknya memahami betul hal itu," cetusnya.
Tentu, target 2027 bukan akhir dari segalanya, masih ada pekerjaan panjang, pengawasan anggaran, distribusi tenaga kesehatan, logistik obat antar pulau, dan disiplin pelaksanaan proyek, sehingga arahnya sudah jelas.
Setelah puluhan tahun terpuruk, RSUD dr. M. Haulussy kini berdiri di ambang kebangkitan, jika semua rencana berjalan, Maluku akan memiliki rumah sakit kebanggaan yang modern, bukan lagi bangunan tua yang membuat hati nyeri. Dan di situlah letak pencapaian fenomenalnya, seorang gubernur, dinas kesehatan, dan manajemen rumah sakit memilih tidak berpasrah pada keterbatasan, tetapi merancang masa depan. No Island Left Behind bukan lagi slogan. Di RSUD Haulussy, ia mulai menjadi kenyataan. (Nicko Kastanja)
Tags
news

